Hate Speech: Polisi Deteksi 180 Ribu Akun Media Sosial

HATE SPEECH jadi trending topic, public agenda, bahan obrolan, jadi sorotan. Hate Speech secara bahasa artinya "ngomong benci" atau berbicara dengan menyebarkan kebencian.

Di media-media Barat sudah lama muncul istilah "hate crime", yaitu kejahatan berlatar belakang kebencian, seperti kasus vandalisme dan serangan terhadap masjid atau kaum Muslim. Sang kriminal itu benci sama Islam, lalu bikin tindak pidana kepada kaum Muslim atau properti milik umat Islam.

Hate Speech berkembang dan menjadi fenomena di media sosial, khususnya Facebook dan Twitter. Fenomena hate speech di Indonesia menemukan momentum saat kampanye pemilu presiden. Saling jelekin alias "kampanye negatif" dan "kampanye hitam" (black campaign) bermunculan di medsos. 

Pengertian Hate Speech

In law, hate speech is any speech, gesture or conduct, writing, or display which is forbidden because it may incite violence or prejudicial action against or by a protected individual or group, or because it disparages or intimidates a protected individual or group. (Hate speech - Wikipedia, the free encyclopediahttps://en.wikipedia.org/wiki/Hate_speechWikipedia)

Surat Edaran Polri


Guna meredam Hate Speech di media sosial, Polri menyebarkan Surat Edaran Nomor SE/06/X/2015 tentang ujaran kebencian (hate speech).

Dilansir kontan.co.id, pihak kepolisian sudah mendeteksi 180.000 akun media sosial yang diduga menyebarkan ujaran kebencian. Penyidik tengah menelusuri para pemilik akun tersebut.

Nah loh, cepetan hapus akun penyebar kebencian itu! Tobat deh!
"Ada yang melakukan penelitian, ada 180.000 akun yang kami cari, dan baru ketemu satu," ujar Kapolri Badrodin Selasa (3/11/2015).

Rata-rata, akun-akun tersebut adalah anonim. "Sebenarnya bisa dilihat, kalau akunnya anonim, itu jadi kecurigaan ada niat jahat. Kalau tidak ada niat seperti itu, kenapa enggak real saja? Kenapa harus anonim?" ujar Badrodin. 

Jika yang bersangkutan dalam prosesnya tetap melakukan hal serupa, jenderal bintang empat itu menyatakan bahwa barulah polisi melakukan tindakan hukum. 

Sesuai pedoman surat edaran itu, Badrodin melanjutkan, penyidik Polri bisa menelusuri pihak di balik akun-akun media sosial yang mengandung unsur penghinaan, menyebarkan berita bohong, pencemaran nama baik, dan fitnah itu.

"Namun, tidak langsung ditindak secara hukum. Kami panggil, kami lihat siapa dia, kenapa dia bilang begitu. Lalu kami ingatkan dampak hukumnya. Ini upaya preventifnya," ujar Badrodin. 

Badrodin meminta publik tidak khawatir atas surat edaran itu. Sebab, surat itu justru untuk menjamin kebebasan berpendapat di Indonesia.

Dewan Pers menyatakan tidak setuju atas Surat Edaran Polri itu. Ketua Dewan Pers Bagir Manan menyatakan jangan sampai "delik" ujaran kebencian ini menyadar media. Media kan sudah punya UU sendiri, UU Pers No. 40/1999. Tapi, di KUHP juga ada Delik Pers lho!

Jurnalistik Online adalah Jurnalisme Generasi Ketiga

Jurnalistik Online adalah proses produksi dan publikasi karya jurnalistik di internet.

Jurnalistik Online (Online Journalism) disebut juga Jurnalistik Internet, Jurnalistik Elektronik, dan Jurnalistik Website.

Format dan gaya penulisan jurnalistik online berbeda dengan jurnalistik cetak dan elektronik (radio/TV).

Jurnalistik Online (Online Journalism) adalah proses pengumpulan, penulisan, penyuntingan, dan penyebarluasan berita secara online di internet.

Jurnalisme Generasi Ketiga 
Jurnalistik Online adalah jurnalisme “generasi ketiga” setelah jurnalistik cetak (print journalism) –suratkabar, tabloid, majalah– dan jurnalistik elektronik (electronic journalism, broadcast journalism) –jurnalistik radio dan televisi.

Jurnalistik Online adalah “jurnalistik masa depan” (future journalism) yang terus berkembang seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Jurnalistik Online bakan sudah “beranak” dengan melahirkan “cabang” berupa:
  1. “Jurnalisme blog” (Blog journalism)
  2. “Jurnalistik mobil” (Mobile journalism)
  3. “Jurnalisme twitter” (Twitter journalism)
  4. Jurnalistik Online juga menumbuhkembangkan konsep “Jurnalisme Warga” (Citizen Journalism) yang diperkokoh dengan perkembangan media sosial (social media) seperti Facebook, Twitter, dan Youtube.
Sumber: Jurnalistik Online karya Asep Syamsul M. Romli (Penerbit: Nuansa Bandung)

Cara Menjadi Wartawan: 5 Tips untuk Mahasiswa Jurnalistik

Cara Menjadi Wartawan: Tips untuk Mahasiswa Jurnalistik

BAGAIMANA caranya menjadi wartawan? Kuliah dan/atau kursus jurnalistik adalah jalan terbaik. Namun, kuliah, kursus, atau pelatihan saja tidak cukup.

Banyak kok lulusan jurnalistik yang tidak jadi wartawan, baik karena memang "bukan garis hidupnya" maupun karena memang gak bisa nulis berita dengan baik, meski sudah kuliah 4-5 tahun atau kursus/pelatihan berhari-hari dan berminggu-minggu.

Berikut ini tips menjadi wartawan sebagai "pelengkap" bagi mahasiswa jurnalistik dan/atau peserta pelatihan jurnalistik / kewartawanan:

1. Read the news. 

Rajin baca berita. Pelajari bagaimana wartawan profesional menyajikan berita, mulai dari judul (head), alinea pertama (lead), hingga isi (body).

2. Forget you have an opinion.

Jangan beropini dalam menulis berita. Jika mau beropini, mengemukakan ide, analisis, atau "curhat", buat saja jenis tulisan jurnalistik lainnya: artikel opini! Berita adalah laporan peristiwa, "hanya" menyampaikan fakta/data kejadian.

3. Know the difference between news and features

Ketahui bedanya berita dan feature. Berita adah informasi baru. Menyajikan fakta/data "apa adanya", melaporkan peristiwa.

Feature adalah eksplorasi latar belakang/sejarah, sudut pandang berbeda, studi kasua/wawancara, analisis, trend, dan sebagainya. 

News is new information. It is succinct and to the point – remember the inverted pyramid. Features typically come later, and tend to explore background/history, different angles, case studies/interviews, analysis, trends, and so on of a topical issue. If you’re asked to write a news story, do just that. Don’t write an essay.

4. Make contacts. 

Kontak adalah penting bagi pekerjaan Anda sebagai wartawan. Anda butuh kutipan, verifikasi, konfirmasi dalam menulis berita.

5. Read books

Baca buku. Books give you two things: an understanding of the possibilities of language and storytelling; and an expansion of your knowledge of the world.

Itu dia 5 tips menjadi wartawan. Selengkapnya ada di sumber: http://onlinejournalismblog.com/2007/09/25/how-to-be-a-journalism-student/ ***

10 Keterampilan yang Wajib Dimiliki Jurnalis Online

HASIL sebuah studi (polling) terhadap 49 wartawan media online, ada 10 keterampilan yang wajib dimiliki jurnalis online. Top skill adalah menulis dan mengedit naskah, diikuti project manajemen, dan blogging di peringkat tiga besar.

Berikut ini hasil survei yang diringkas dalam Top 10 skills for online journalists:

Iin a poll of 49 online journalists, researchers Ryan Thornburg and Ying Roselyn Du asked practitioners to rank their daily duties from a list of 26 possibilities. 

Here are their Top 10:
1. Writing or Editing Scripts
2. Project Management
3. Blogging
4. User Interface Design/Photo Shooting (tie)
6. Video Production
7. Staff Organization/Administration
8. Story Combining/Shortening
9. Reporting and Writing Original Stories
10. Photo/Image Editing

Ada poin yang hilang? Benar, mana nomor 5? Ke mana dia? Oke deh... jadinya Top 9 Skills for Online Journalists.

Sebagai "second opinion", berikut ini The Online Journalism Skills that Get Jobs lainnya.

If you want a job in online news, there is no better asset than to be a smart, critically thinking journalist. But in this time of multimedia storytelling, software skills matter, too.




The three skills he lists were the most common responses. Others included:
  1. How to collect and edit audio
  2. How to work with databases
  3. Interface design skills
  4. Enterprise
Lho, jadi empat? Katanya tiga! No problema.... menutup kekurangan data di atas :)


Berikut ini sebagian detailnya:



Media Editing Skills: Audio and Video 
Interactive packaging skills: Flash
"Flash is used primarily when creating interactive multimedia packages that combine video, photography, audio and text, as well as for interactive informational graphics," said Nelson Hsu, designer for washingtonpost.com"Potential employees do not have to be Flash experts, but should be very comfortable working in the program and especially with ActionScript."

Web site development skills: HTML, CSS

Understanding basic HTML is an online journalism lifeline -- especially in the day-to-day production of Web presentations.

"They need the markup basics," Hutt said. "Nothing too fancy, but they do need to know how to format text, define a headline and apply some color or size characteristics to a page element. They need to know how to construct an image tag and embed a video."

Bagaimana menguasai semua itu? Start with.. Blogging! Create a blogayeuan keneh! Mengapa blogger? Karena di blogger kita bisa bereksperimen banyak tentang Desain, Optimisasi Mesin Pencari alias SEO, dan lainnya sehingga bisa menguasai elemen media online (website).
Back To Top